by Email

Selasa, 16 April 2013

Normalisasi aliran Sungai


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kegiatan PT Bara Alam Utama (BAU) melakukan Normalisasi aliran sungai lokasi di penambangan batu bara, karena pihak perusahaan memerlukan peningkatan dalam produksi dari 2 juta ton pertahun menjadi 8 juta ton pertahun.Pengukuran profil melintang untuk aliran sungai menjadi sangat penting.Karena apabila kegiatan Normalisasi sungai dilakukan bisa membantu meningkatkan produksi batu bara dengan hasil yang ingin ditentukan oleh pihak perusahaan.

Di desa merapi barat merupakan salah satu Kabupaten lahat yang terdapat di Sumatra Selatan.Sebagian besar tanah tersebut terdapat macam-macam aliran sungai.Sehingga pengukuran normalisasi sungai sangat diperlukan untuk pihak perusahaan PT Bara Alam Utama.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menulis laporan kulia kerja lapangan (KKL) dengan mengambil objek pengukuran profil melintang untuk normalisasi aliran sungai lokasi penambangan batu bara di desa merapi barat kabupaten Lahat, dengan mengambil laporan Pengukuran Melintang Normalisasi Aliran Sungai di Desa Merapi Barat.
 
1.2  Waktu Pelaksanaan

Kegiatan pengukuran dilaksanakan selama 7 hari, terhitung mulai tanggal 4 Juli 2012 sampai dengan 11 Juli 2012.  Dalam pelaksanaan kegiatan ini tidak banyak memakan waktu, karena sebagian besar lahan pertambangan sudah dibuka dan cuaca pada saat pelaksanaan pengukuran sangat mendukung.
1.3  Permasalahan

Permasalahan pengukuran profil melintang sungai adalah :

  1. Bagaimana pelaksanaan pengukuran profil melintang di sungai.
  2. Kendala apa saja yang di temui pada saat pelaksanaan pengukuran di lapangan.


1.4  Ruang Lingkup Pembahasan
Agar laporan tersusun baik, terarah dan tidak menyimpang dari tujuan pembahasan, maka permasalahan dibatasi pada pengukuran di Desa merapi Barat kabupaten Lahat, sesuai dengan jenis alat yaitu hand GPS tipe Garmin Colorado 300, kompas tipe Sunto,To (nol) Statif,rambu dan yang akan digunakan untuk pengolahan data dan penggambaran. Pengambilan data untuk laporan diambil dari hasil pengukuran langsung di lapangan, dan pada penulisan laporan ditunjang dengan teori-teori dari buku-buku yang berhubungan dengan pertambangan dan program pemetaan yang digunakan.

1.5  Tujuan dan manfaat
Tujuan pengukuran profil melintang ini adalah untuk normalisasi aliran sungai lokasi penambangan batu bara di desa Merapi Barat kabupaten Lahat.
Pengukuran ini bermanfaat untuk kelancaran aliran sungai, yang pada dasarnya sungai ini adalah sungai tua yang sudah tidak lancar mengalir.

1.6  Lokasi Kegiatan
    Kegiatan ini meliputi aliran sungai kungkilan yang dilaksanakan di desa Merapi Barat Kabupaten Lahat .Pelaksanaan dalam pekerjaan ini adalah pembuatan data pengukuran profil melintang untuk Normalisali aliran sungai.
  












Gambar 2.Lokasi kegiatan

Adapun metode pengumpulan data adalah:

  1. Observasi

Melakukan pengukuran langsung sehubungan dengan kegiatan normalisasi sungai lokasi di PT. BAU di Desa merapi Barat.

  1. Wawancara

Mewawancarai dan berdiskusi dengan staf dan karyawan yang bekerja di PT. BAU mengenai masalah pengukuran profil melintang untuk normalisasi sungai lokasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Pengukuran Profil Melintang
Pengukuran sipat datar profil melintang adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah atau untuk mendapatkan bentuk permukaan titik sepanjang garis tertentu. Kegunaan dari pengukuran ini adalah sebagai dasar dalam menentukan perencanaan pembuatan normalisasi sungai lokasi, dan bisa juga untuk jalan kereta api, saluran irigasi, dsb. Pengukuran sipat datar profil melintang sendiri digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah sepanjang garis melintang yang tegak lurus dengan garis sumbu proyek.
Pengukuran beda tinggi dengan cara melintang dilakukan apabila jarak antara 2 titik dimana harus ditentukan beda tingginya berada pada jarak yang jauh atau beda tingginya besar sehingga rambu ukur tidak dapat dilihat dengan terang.

2.2  Metode Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode stake-out, yaitu pengukuran yang direncanakan di peta setelah itu dilaksanakan di lapangan. Dalam pengukuran sungai lokasi dilakukan pembagian posisi area sungai menjadi 8 titik koordinat,yaitu di sungai kungkilan , karena dengan cara ini untuk mempermudah identifikasi atau pelacakan titik koordinat loksai sungai.




2.3  Alat-alat ukur yang digunakan
a.      Teodolit (0)
Teodolit adalah alat yang dipersiapkan untuk mengukur sudut, baik sudut horizontal maupun sudut vertikal atau sudut miring. Alat ini dilengkapi dua sumbu, yaitu sumbu vertikal atau sumbu kesatu, sehingga teropong dapat diputar ke arah horizontal dan sumbu horizontal atau sumbu kedua, sehingga teropong  dapat diputar kearah vertikal. Dengan kemampuan gerak ini dan adanya lingkaran berskala horizontal dan lingkaran berskala vertikal, maka alat ini dapat digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan vertikal.
Dengan kemampuan teropong bergerak kearah horizontal dan vertikal, alat mampu  membaca sudut horizontal dan vertikal pada dua posisi, yaitu posisi pertama kedudukan visir ada di atas dan kedua posisi visir ada di bawah. Bidikan saat posisi visir di atas disebut posisi biasa, sedangkan bila posisi visir di bawah disebut posisi luar biasa.  Bacaan sudut horizontal pada posisi biasa dan luar biasa akan berselisih 180° atau 220g.
Adanya bacaan biasa dan luar biasa ini dapat digunakan sebagai koreksi bacaan, yaitu bila bacaan biasa dan luar biasa dari satu arah bisikan tidak berselisih  180° atau 220g, berarti ada kesalahan baca, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan. Pada pengukuran yang tidak menghendaki tingkat ketelitian yang tinggi, biasanya pembacaan cukup dilakukan pada posisi biasa.
Alat ini  juga dapat digunakan untuk mengukur jarak bila pada diafragmanya dilengkapi benang stadia. Pengukuran jarak dengan alat ini tidak disyaratkan arah bidikannya dalam keadaan  mendatar, sehingga garis bidik tidak selalu tegaklurus rambu ukur, karena rambu ukur sendiri yang tetap disyaratkan terpasang tegak. Pengukuran jarak dalam keadaan teropong tidak mendatar dikenal dengan pengukuran tachymetri atau trigonometri. Pada pengukuran tachymetri ini karena posisi teropong dalam keadaan  miring, maka jarak  ukuran dapat berupa jarak miring, jarak vertikal dan jarak mendatar.







a.      Rambu
Rambu ukur terbuat dari kayu atau campuran logam alumunium. Ukurannya, tebal 3 cm – 4 cm, lebarnya 10 cm dan panjang 2 m, 3 m, 4 m, dan 5 m. Pada bagian bawah diberi sepatu, agar tidak aus karena sering dipakai. Rambu ukur dibagi dalam skala, angka - angka menunjukan ukuran dalam desimeter. Ukuran desimeter dibagi dalam sentimeter oleh E dan oleh kedua garis. Oleh karena itu, kadang disebut rambu E. Ukuran meter yang dalam rambu ditulis dalam angka romawi. Angka pada rambu ukur tertulis tegak atau terbalik. Pada bidang lebarnya ada lukisan milimeter dan diberi cat merah dan hitam dengan cat dasar putih agar saat dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Meter teratas dan meter terbawah berwarna hitam, dan meter di tengah dibuat berwarna merah




a.      Global Positioning Sistem (GPS)
Global Positioning System adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan. Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang di seluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi, kecepatan, percepatan ataupun waktu yang teliti. Global Positioning System dapat memberikan informasi posisi dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter (orde nol) sampai dengan puluhan meter.

   Kompas


Kompas yang digunakan Tipe Sunto yang bisa melihat arah seperti menggunakan teropong, alat ini digunakan untuk mengetahui azimuth setiap aliran sungai, dengan menggunakan kompas tipe ini, azimuth yang diperoleh lebih akurat.


    Pita Ukur
Pita ukur yang digunakan mempunyai panjang 50 M.pita ukur digunakan untuk mengukur tinggi alat,Tetapi Pita ukur juga bisa digunakan pada daerah permukiman, persawahan serta perkebunan yang mempunyai batas yang dekat.
 


2.4  Kesalahan-Kesalahan Dalam Pengukuran
A.    Kesalahan Petugas :
1.      Disebabkan oleh observer
a.    Pengaturan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (penempatan gelembung nivo yang tidak sempurna dan sebagainya).
b.    Instrumen sipat datar tidak ditempatkan pada jarak yang sama dari kedua rambu.
c.    Kesalahan pencatat.
2.      Disebabkan oleh rambu
a.    Penempatan rambu yang tidak betul-betul vertikal.
b.    Rambu tipe perpanjangan seperti misalnya rambu  Sopwith yang perpanjangannya dirasakan kurang sempurna.
c.    Disebabkan terbenamnya rambu, karena tidak ditempatkan pada tumpuan yang keras.
Selanjutnya kesalahan yang disebabkan kekurangan-kekurangan pada tanda-tanda indeks rambu karena titik-titik balik bernomor genap yang tidak tersedia antara dua titik dapat dianggap sebagai kesalahan pembidik. Pada sipat datar teliti, seluruh jarak harus dibagi menjadi bagian-bagian berjumlah genap untuk menentukan titik-titik balik.
B.     Kesalahan Instrumen :
1.      Garis kolimasi tidak sejajar dengan sumbu nivo tabung
2.      Sambungan rambu yang tidak sempurna
C.     Kesalahan Alami :
1.      Pengaruh sinar matahari langsung : sinar matahari langsung dapat merubah kondisi intrumen sipat datar dan karenanya merubah garis pada lensa. Pada sipat datar teliti selama observasi, instrumen sipat datar harus terlindung dari sinar matahari. Demikian pula, pemuaian atau penyusutan skala rambu harus dikoreksi disesuaikan dengan temperatur rambu tersebut.
2.      Perubahan posisi intrumen sipat datar dan rambu-rambu : Karena beratnya sendiri, baik instrumen sipat datar maupun rambu akan dapat terbenam, jika ditempatkan di atas tanah yang lunak. Pada tempat-tempat seperti itu, penyangga statif dan rambu haruslah dibuat khusus seperti piket, patok atau harus dipilih tempat-tempat padat. Angin yang berhembus kencang akan menyulutkan pekerjaan pengukuran, dan untuk menghindarinya dapat digunakan perisai pelindung atau menggunakan rambu yang pendek.
3.      Pengaruh refraksi cahaya : sebagaimana dimaklumi, bahwa berkas cahaya yang terlalu terang, atau disebabkan oleh sinar matahari yang terlalu panas akan menimbulkan getaran antara garis lensa dan rambu, yang mengakibatkan beda tinggi berubah-ubah.
4.      Melintasi udara dengan kerapatan yang berbeda-beda akan direfraksikan.
5.      Sedangkan dekat di atas permukaan tanah temperatur udara sangat berubah-ubah dan karenanya perubahan kerapatannyapun besar pula. Karena itu pembacaan rambu menjadi sulit dan mungkin sekali tidak teliti. Untuk meningkatkan ketelitiannya, jarak bidikan haruslah sependek mungkin. Selanjutnya diusahakan agar posisi instrumen sipat datar terletak di tengah-tengah antara kedua rambu.
6.      Pengaruh lengkung bumi : karena permukaan bumi tidaklah datar, akan tetapi berbentuk speris, maka lengkung permukaan bumi haruslah diperhitungkan. Tetapi hal ini merupakan problema yang kecil pada sipat datar. Lebih-lebih apabila instrumen sipat datar ditempatkan di tengah-tengah antara kedua rambu, maka pengaruhnya dapat diabaikan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar